Wednesday, May 5, 2010

"Anak" Tuhan

Julukan 'Anak Tuhan' ini seringkali menjadi bahasan diberbagai diskusi yang terjadi antara kedua agama (Kristen dan Islam), berikut adalah 2 argumen yang selalu diutarakan dari pihak Kristen mengenainya:
1. Bahwa 'Anak Tuhan' tidak bisa diartikan secara harfiah
2. Bahwa 'Anak Tuhan' itu berarti Tuhan Anak yang menjadi bagian dari salah satu entitas dalam Trinitas, sebuah kesatuan dengan Tuhan Bapa dan Tuhan Roh (Roh Kudus)

Kedua argumen diatas sama sekali bertentangan terhadap satu sama lainnya, karena
1. jika tidak dapat diartikan secara harfiah maka julukan tersebut sama berlakunya dengan sebutan yang diberikan kepada pengikut Kristen yang sering disebut sebagai Anak-anak Tuhan.. apakah itu lalu berarti Kristiani juga adalah Tuhan?
2. bahwa kata 'anak' merupakan gambaran sebagai recipient (penerima) kehidupan, sedangkan kata 'Tuhan' menggambarkan sifat Ketuhanan, menggambarkan Dia yang idak membutuhkan kehidupan dari siapapun sehingga kedua kata tersebut, 'Anak' dan Tuhan', tidak bisa disampingkan karena kemudian memiliki arti yang saling menentang.

Terhadap kedua tanggapan diatas ini, pada akhirnya orang Kristen selalu kembali menggunakan kalimat seperti, " Kita tidak dapat memahami semua yang dimaksudkanNya ", seolah-olah agama Kristen adalah sebuah agama Misteri Ilahi.

Konsep verifikasi dan pemahaman ini bisa kita jadikan ilustrasi seperti berikut;
Sebuah reaksi kimia pasti dapat diverifikasi, akan tetapi atom, tidak bisa dipahami dengan cara yang sama. Cara diatas inilah yang menjadi kunci perbedaan antara Kristen dan Islam dalam membuktikan sesuatu.

Jadi sebenarnya, pertanyaan yang tepat bukanlah "Bagaimana Trinitas" itu, karena hal tersebut dapat dijelaskan (Trinitas adalah bla bla bla - walaupun telah sungguh jelas Trinitas tersebut adalah hasil keputusan Dewan Nicea pada tahun 325 akibat kontroversi yang timbul antara Arius dan Athanasius), melainkan "Mengapa Yesus harus menjadi Tuhan?" dan "Manakah ucapan Yesus yang menyatakan bahwa ia setara dengan Tuhan?", Bisakah kita menguji konsep ini?

Yesus menggunakan istilah 'anak manusia', 'anak Tuhan', 'mesias'(Yang Diurapi), dan 'savior', namun ternyata istilah-istilah tersebut juga digunakan untuk merujuk kepada orang-orang selain dia (Yesus) ;
1. Kepada nabi Yehezkiel, Yehezhiel 3:1, " Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, makanlah apa yang engkau lihat di sini; makanlah gulungan kitab ini dan pergilah, berbicaralah kepada kaum Israel."
2. Kepada para pembawa kedamaian, Matius 5:9, " Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. "
3. Kepada Cyrus (Koresy), Raja Persia, Yesaya 45:1, " Beginilah firman TUHAN: "Inilah firman-Ku kepada orang yang Kuurapi, kepada Koresh yang tangan kanannya Kupegang supaya Aku menundukkan bangsa-bangsa di depannya dan melucuti raja-raja, supaya Aku membuka pintu-pintu di depannya dan supaya pintu-pintu gerbang tidak tinggal tertutup "

" Sikap mendua para penerjemah Alkitab terlihat dengan diterjemahkannya kata 'Mesiah' yang tidak menunjuk kepada Yesus sebagai 'Yang Diurapi' (atau 'Yang Kuurapi', menurut Alkitab standar Indonesia). Sementara itu ayat-ayat Alkitab yang merujuk kepada Yesus mereka terjemahkan dengan 'Mesiah' atau padanan kata Yunani Christ (Kristus). Dengan cara ini mereka berusaha memberi kesan bahwa hanya ada satu Mesias (Mesiah). Untuk orang selain Yesus mereka menggunakan kata savior (atau 'penolong' dalam Alkitab versi Indonesia, seperti yang tercantum dalam 2 Raja-raja 13:5. Disamping itu, orang Kristen sering menunjuk pasal 43 Yesaya sebagai bukti bahwa hanya ada satu juru selamat. " (kutipan dari buku Bible Menurut Mantan Kristen, oleh : G. Miller, hal. 18)

2 Raja-raja 13: 5, " TUHAN memberikan kepada orang Israel seorang penolong, sehingga mereka lepas dari tangan Aram dan dapat duduk di kemah-kemah mereka seperti yang sudah-sudah."

Argumentasi kemudian sering beranjak menggunakan Yohanes 8:58 (Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.), untuk menunjukkan bahwa Yesus secara tidak terang-terangan memberitahu dan mengakui bahwa dirinya adalah Tuhan.. Benarkah?

Yeremia 1:5, " "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa."

Yohanes 8; 58 diterjemahkan secara harfiah oleh orang Kristen, bahwa Yesus secara harfiah telah ada sebelum abrahan, tetapi Yeremia 1:5 ditolak orang Kristen untuk diterjemahkan secara harfiah juga (bahwa Allah telah mengenal nabi Yeremia sebelum dia menjadi janin, harfiahnya adalah bahwa nabi Yeremia telah mengalami kehidupan sebelum manusia).

Kemudian, biasanya merujuk kepada perbedaan asal bahasa, Kristen umumnya akan mengatakan bahwa kenapa Yeremia dan Yohanes diatas tidak dapat diterjemahkan dengan cara yang sama (harfiah) adalah karena kitab Yeremia diterjemahkan dari bahasa Ibrani sedangkan Yohanes dari bahwa Yunani.

Baiklah, kita gunakan metode yang sama,
Keluaran 3:14, "Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu."

1. Keluaran ditulis dalam bahasa Ibrani, Yohanes ditulis dalam bahasa Yunani.
2. Semua kata-kata Yesus, kecuali sedikit diantaranya tercatat dalam bahasa Yunani.
3. Kira-kira 200 tahun sebelum masa Yesus, orang Yahudi memakai terjemahan Yunani untuk kitab-kitab suci mereka (Septuaginta) dan menterjemahkan kata 'Aku' didalam Keluaran dengan 'Ho On', dan 'Aku' dalam Yohanes dengan 'Ego Eimi'.
Kesimpulan; jika kitab yohanes dimaksudkan mengartikan Yesus identik dengan Tuhan kepada para pembaca berbahasa Yunani maka seharusnya penulis kitab Yohanes ini menggunakan kata-kata yang sudah lazim dalam Septuaginta. Ini membuktikan bahwa Yohanes 8:58 dengan arti yang selama ini diyakini orang Kristen kemudian menjadi diragukan kebenarannya.

Berikut, ayat ini juga sering digunakan;
Yohanes 10:30, Yesus mengatakan 'Aku dan Bapa adalah satu' ('satu' dalam bahasa Yunani = hen)
Pernyataan itu menjadi tidak berdasar karena, kata-kata yang sama sebenarnya juga dipakai Yesus menyatakan dia dan murid-muridnya juga adalah satu (Yohanes 17:11, 21, 22, 23)

Akhirnya kemudian mereka akan memakai ayat Yohanes 3:16, " Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

Kata 'Tunggal' menurut orang Kristen mengacu kepada 'anak Tuhan' yang satu-satunya dan bukannya 'anak-anak Tuhan' yang lain, mungkin mereka lupa bahwa kata 'tunggal'
tersebut juga terdapat pada Ibrani 11:17, "Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal ", padahal itu mengacu pada Ishak sedangkan Ishak bukanlah anak tunggal Ishmael..

Ok, mungkin Ishak disebut anak tunggal karena Ishmael hidup tidak lebih lama ayahnya? Tidak!
Kejadian 25:9, " Dan anak-anaknya, Ishak dan Ismael, menguburkan dia dalam gua Makhpela, di padang Efron bin Zohar, orang Het itu, padang yang letaknya di sebelah timur Mamre "

Atau mungkin ada maksud tersembunyi khusus dari para penulis Perjanjian Baru menulis Ibrani 11:17 tersebut?

Seharusnya setiap ayat harus dapat membuktikan kebenaran tentang suatu hal, dan kalau tidak maka kebenaran tersebut otomatis akan gugur (dengan sendirinya)

0 comments:

Post a Comment