Wednesday, May 5, 2010

Manusia atau Tuhan yang disalib? dan Rahasia Tuhan dalam Alkitab

A : Mengapa Yesus harus dipandang sebagai Tuhan?
B : Karena dia memang Tuhan
A : Apa yang membuat kalian berpendapat seperti itu?
B : Karena dia telah mati dikayusalib, dan kematiannya merupakan penebusan dosa-dosa manusia.
A : Apa sih pentingnya kematian untuk penebusan itu?
B : Karena tanpa penebusannya itu tidak akan ada keselamatan
A : Berarti kan gak harus Yesus yang mati, klo konsep yang anda maksudkan adalah karena kematian seseorang maka dosa-dosa seluruh umat manusia akan ditebus agar supaya ada keselamatan?
B : Harus Yesus, tidak bisa yang lain
A : Kenapa?
B : Karena dia adalah anak tunggal Allah, suci, kudus
A : Emangnya kenapa dengan manusia biasa?
B : Tidak cukup berarti, dengan kematian anak Allah maka selain mendapatkan penebusan dan keselamatan juga memiliki arti yang luar biasa, bayangkan Allah sampai merelakan anakNya yang tunggal untuk mati dikayu salib
A : Tapi kan katanya Yesus itu Tuhan, jadi apa yang luar biasa? kalau Tuhan kan gak bisa mati, jadi pasti Allah bapaknya itu tidak bisa disebut rela dong? wong dia tau pastinya anaknya itu bakalan hidup lagi, dan seperti dalam ceritanya, yesus beneran hidup lagi kan lalu pergi untuk bersama-sama lagi dengan bapanya?
B : ... (terdiam sejenak), tentu luar biasa, karena manusia biasa itu tidak sempurna, sedangkan Yesus adalah sempurna
A : Kenapa manusia biasa dibilang tidak sempurna?
B : Karena kita, manusia biasa, ini adalah warisan dari ayah kita, sedangkan Yesus tidak memiliki ayah, ia lahir dari roh kudus
A : Loh bukannya Tuhan roh itu adanya setelah kenaikan Yesus?
B : Tuhan bapa, tuhan anak dan tuhan roh itu sejak awal sudah ada, beda-beda aja tugasnya
A : tugas tuhan roh kata alkitab sebagai penghibur, ternyata juga bertugas untuk membuahi Maria?
B : Bukan pembuahan biologis seperti yang kita pahami! Proses itu hanya Tuhan yang tau, kita tidak boleh mengada-ada! Itu rahasiaNya!
A : Tuhan yang anda maksudkan barusan adalah Tuhan yang mana?
B : Tuhan bapa
A : oh begitu
B : Intinya, Yesus itu tidak bercela sehingga ia sempurna dan karena kesempurnaannya itulah menyebabkan hanya ia yang bisa menjadi penebus dosa semua umat manusia. Seorang penebus selain harus sempurna sebagai manusia ia juga haruslah Tuhan supaya dapat diterima oleh orang-orang yang ditebusnya(ia buru-buru menambahkan).
A : Wah, kalau saya sih gak perlu harus Tuhan yang menebus untuk bisa saya terima, jadi manusia yang ditebus dosa-dosanya oleh seorang manusia lain aja pasti orang itu saya terima
B : Nah kan, bayangkan apalagi klo Tuhan yang menebus kan?
A : Bukan, maksud pernyataan saya tadi adalah, kenapa perlu Tuhan, tugas itu dilakukan oleh seorang manusia biasa, nabi pilihan misalnya, pasti sudah akan cukup membuat manusia terkesan, menyanjungnya, mendengarkan perkataannya dan menuruti semua perintah dan larangannya. Kenapa harus Tuhan?
B : Itu kan sudah saya jelaskan kepada anda tadi, selebihnya itu hanya Tuhan yang tahu, itu rahasiaNya.
A : Apakah Tuhan mati?
B : Tidak, hanya manusia Yesus saja yang mati. Yesus itu seorang manusia sekaligus Tuhan, ia Tuhan sekaligus seorang manusia, yang mati dikayu salib itu hanya komponen kemanusiaannya saja
A : Berarti sebenarnya anda mengakui bahwa kematian manusia itu dapat menebus dosa?
B : Iya benar
A : Lalu kenapa anda bilang yang berlaku hanyalah kematian Yesus, tidak bisa kematian manusia lain?
B : (mulai emosi).. Anda ini bebal atau bodoh sih? Saya kan tadi sudah bilang kenapa harus Yesus.. Karena hanya dia manusia yang sempurna dan bahwa dia adalah Tuhan
A : Maaf kalau membuat anda kesal, saya hanya kebingungan saja mendengar penjelasan anda yang berputar-putar. Anda bilang bahwa Yesus itu manusia sekaligus Tuhan, Tuhan sekaligus manusia, tetapi yang mati dikayu salib adalah manusianya saja, dan anda membenarkan bahwa kematian manusia dapat menebus dosa. Tetapi kemudian anda kembali lagi mengatakan bahwa hanya Yesus yang bisa menebus karena dia adalah manusia sekaligus Tuhan dan sebaliknya...?
B : (terdiam sebentar).. Itulah begitu luasnya ilmu Tuhan sehingga kita manusia tidak bisa memahaminya, hanya Allah saja. Itu rahasiaNya.
A : Kenapa sih, sepertinya agama anda ini agama Misteri Ilahi, sebentar-sebentar bilangnya gitu?
B : Bukan begitu, kami hanya tidak mau takabur mengartikan sesuatu seenak udel kami aja. Apa yang alkitab bilang itu pasti benar, hanya orang yang menerimanya dengan hati yang kemudian akan mengerti.
A : Tapi anda tidak mengerti, anda selalu saja kembali ke 'itu rahasiaNya', seharusnya anda mengerti
B : Anda tidak boleh memaksakan kehendak anda kepada Tuhan, kalau Tuhan bilang rahasia ya rahasia, kita tinggal hanya bisa menerima dengan hati, karena tidak mungkin Tuhan mengatakan, berbuat atau bermaksud sesuatu yang tidak benar
A : Matius 13:11, "Jawab Yesus; kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak."
B : Itu benar, ini buktinya, bahwa anda tidak dapat memahami bahwa ada yang namanya rahasia kerajaan sorga sedangkan saya memahami bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dijangkau oleh nalar manusia (rahasiaNya)
A : Sepertinya anda salah memahami ayat ini, ayat ini bilangnya 'mengetahui rahasia' bukannya 'mengetahui adanya rahasia', beda loh artinya. Jadi semestinya anda sebagai murid-murid yesus tidak bisa memakai dalih 'itu rahasiaNya, kita tidak bisa mengada-ngada'.
B : Anda ini lancang, mengartikan sesuatu seenak udelnya.
A : Maaf, sekali lagi maaf.. apa bertanya dan menyelidiki kebenaran dilarang oleh agama anda?
B : Bukan, tetapi mereka-reka arti dari sesuatulah yang dilarang, kenapa, karena firman Tuhan itu bukan untuk diartikan sembarangan
A : Maaf, tapi saya tidak pernah mereka-reka arti ayat didalam kitab agama anda. Ayat itu memang begitu artinya. Coba saja anda buka alkitab anda dan lihat, selidiki.
B : Kurang ajar sekali anda menyuruh saya meragukan alkitab
A : Loh, saya tidak kurang ajar. Perintah mencari kebenaran itu kan ada dalam kitab anda, matius 6:33 " Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya...", sekarang cara mengetahui sesuatu itu benar atau salah kan dengan cara menyelidikinya


Cat:

Bagaimana cara mengetahui sesuatu itu benar atau salah?
Bagaimana sesuatu akhirnya bisa dibilang benar?

Sejarah Trinitas -2-

Trinitas adalah tiga Tuhan dalam satu. Tuhan Allah adalah misteri. Tak seorang pun pernah melihat atau mengetahui seperti apa Tuhan itu. Yesus adalah manusia dengan tulang dan daging. Beliau hidup di dunia ini sebagai orang yang memiliki sejarah hidup. Roh Kudus adalah “Tuhan” ciptaan Konsili yang tidak dikenal di zaman Yesus.

“….kami belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus”. (Kis. 19:2)

Naskah Laut Mati yang di tulis di zaman Yesus tidak pernah menyebut tentang Roh Kudus yang di sembah.
Reverend Dr. Charles Francis Potter dalam bukunya The Lost Year of Yesus Revealed, 1992, hal 16, menjelaskan:

“Few believing Christians yet realize (for few scholar are yet adminitting) how many important doctrines are doe to be change radically, and how many others should eventually be eliminated when the Scroll are properly recognized and evaluated in relation to the New Testament. The very vulnerable doctrine of the Holly Spirit will have to go, as we shall see, and will take with it inevitably the doctrine of the Trinity, which was never in the Bible anyway”.
(Hanya sedikit pemeluk agama Kristen yang hingga saat ini menyadari (sebagaimana hanya sedikit para ilmuwan yang hingga saat ini mau mengakui), betapa banyak ajaran dasar agama Kristen yang harus dirubah secara radikal dan beberapa banyak lainnya yang harus di singkirkan (dari Alkitab) bila Naskah (Laut mati) diakui dan dipelajari dengan benar dalam hubungannya dengan Kitab Perjanjian Baru. Ajaran yang paling lemah dan harus di singkirkan adalah tentang Roh Kudus, sebagaimana yang terlihat (dalam Naskah Laut Mati), dan tanpa bisa dihindari, ajaran tentang Trinitas harus pula ikut tersingkir, karena sama sekali tidak pernah diajarkan dalam Alkitab)
Biarawati dan penulis kawakan Karen Armstrong dalam bukunya A History of God hal. 135, mengutip pernyataan Gregory of Nazianzus, tokoh pemikir Trinitas di abad ke IV yang menceritakan bagamana Roh Kudus yang tidak dikenal di zaman Yesus menimbulkan berbagai permasalahan ketika mulai diperkenalkan di abad ke IV.

“The Cappadocians were also anxious to develop the notion of the Holy Spirit, which they fe(t have been dealt with very perfunctorily at Nicea: `And we believe in the Holy Spirit’ seemed to have been added to Athanasius’s creed almost as an after thought. People were confused about the Holy spirit. Was it simply a synonym for God ar was it something more? `Some have conceived (the Holy Spirit) as an activity’, noted Gregory of Nazianzus, `some as a creature, some as God and some have been uncertain what to call him”.
(Golongan Cappadocian (Pendukung Trinitas) juga pusing untuk menetapkan pengertian Roh Kudus, yang dulu mereka sama sekali mengabaikannya pada Konsili di Nicea: `Dan Kami percaya kepada Roh Kudus’ nampaknya baru ditambahkan ke Credo Athanasius (di Necia) setelah dipikirkan kemudian. Masyarakat dibuat bingung tentang apa sesungguhnya Roh Kudus itu. Apakah ini sama dengan Tuhan ataukah sesuatu yang lain? `Sebagian orang menganggap (Roh Kudus) sebagai suatu kegiatan’, kata Gregory of Nazianzus, sebagian lagi menganggapnya makhluk, sebagian menganggapnya Tuhan, dan sebagian lagi tidak tahu mau menyebutnya apa).
Oleh karena itu, untuk menyatakan bahwa Allah yang tidak tampak, manusia Yesus yang memiliki tulang dan daging dan Roh Kudus yang tidak pernah dikenal di zaman Yesus adalah suatu zat, memang dapat dianggap misteri yang artinya aneh bin ajaib. Doktrin ini membingungkan pencetusnya sendiri serta para agamawan Kristen. Mereka kesulitan menjelaskan ajaran penyembah berhala ini dalam konteks Kristen. Ujung-ujungnya mereka menetapkan doktrin Trinitas sebagai suatu misteri (Cave 1997).
Perhatikan bagaimana pengkuan jujur “Romonya” Trinitas, Athanasius, dalam buku The Decline and Fall of the Roman Empire yang ditulis oleh Edward Gibbon:

“Christian Theologian, the great Athanasius himself, has candidly confessed that whenever he forced his understanding to mediate on the divinity of the Logos, his toilsome and unavailing efforts recoiled on themselves; that the more he thought, the less he comprehend; and the more he wrote, the less capable was he expressing his thought”.
(Teolog besar Kristen Athanasius sendiri secara terbuka mengakui bahwa semakin dia memaksakan pengertiannya untuk menjelaskan ketuhanan Logos (Firman), segala daya dan upaya yang diusahakannya kandas dengan sendirinya; bahwa semakin dia berfikir, semakin dia kurang memahami; semakin banyak penulis, semakin kurang kemampuan menjelaskan jalan pikirannya).
Baru saja Athanasius mencoba memformulasikan hubungan Yesus sebagai Logos (Firman) penyembah berhala dengan Tuhan Allah, dia sudah pusing. Belum lagi di tambah dengan “Tuhan” Roh Kudus.
Monsignor Eugene Clark mengakui konsep Trinitas sulit dimengerti. Untuk itu menurut dia, sebaiknya konsep Trinitas diterima saja walaupun tidak dimengerti.

“God is one, God is three. Since there is nothing like this in creation, we cannot understand it, but anly accept it”
(Tuhan itu satu, Tuhan itu tiga. Karena tidak ada yang seperti ini di alam ini, sehingga kita terima saja walaupun kita tidak mengerti).
Hubungan ketiga oknum dalam Trinitas dengan susah payah diciptakan oleh Gereja di tengah-tengah pertentangan, kontroversi dan malah pertumpahan darah. Pemimpin Gereja terpaksa harus mengeluarkan pernyataan untuk menerima ajaran Kristen tanpa harus menyelidikinya. Uskup Agung Anslem, pemimpin Gereja di Canterbury (1093-1109) dalam bukunya Prosologian I, mengatakan:

“For 1 am not seeking to understand in order to believe, but 1 believe in order that 1 may understand”
(Saya tidak perlu mengerti untuk percaya, tetapi saya percaya agar saya mengerti).
Selanjutnya dalam bukunya Cur Deus Homo 1:2 dia menjelaskan urut-urutan menerima ajaran yang misterius dalam Kristen :

” The correct order is to believe the deep thing of Christian faith before undertaking to discuss them by reason……so that even though 1 totally unable to understand it, nothing could shake the constancy of my belief.”
(Urutan yang tepat adalah meyakini keimanan Kristen secara mendalam lebih dahulu, baru kemudian mendiskusikannya berdasarkan akal sehat….dengan demikian, walaupun saya tidak mengerti sama sekali, tidak ada yang akan dapat mengguncang keteguhan iman saya).
Kalau sudah begini keadaannya, berarti tidak ada lagi jalan bagi mereka yang ingin mempertanyakan kebenaran suatu ajaran sebelum diyakini. Kalau yang diajarkan kepada kita adalah sesuatu yang salah, sekuat apa pun kita mengimaninya, ya, tetap saja salah, dan konsekwensinya kita akan dicampakkan ke dalam api neraka.
Kalau gereja sudah mengatakan demikian, sementara Yesus tidak pernah mengatakan bahwa dirinya adalah oknum kedua dari Trinitas, berarti kita diberi kesan seakan-akan Yesus sengaja menipu umatnya bani Israel, hanya untuk menyenangkan para penyembah berhala di kerajaan Romawi.

Mengapa umat Kristen dapat menerima ide yang tidak masuk akal ini?

Para penginjil menurut Dr. Bruce Goldbert dalam bukunya ” New Age Hypnosis” hal. 2, sudah terlatih dalam pemanfaatan jurus-jurus hipnotisme dan sugesti. Melalui teknik-teknik ini, dengan mudah mereka menaklukkan alam bawah sadar jemaat atau individu. Mereka menggunakan cara-cara ini untuk mencuci otak jemaat agar mudah memerima pesan-pesan, baik yang masuk akal maupun yang tidak masuk akal, yang dikemas dengan retorika yang mempesona. Dengan cara ini mereka dapat membuat sesuatu yang tidak masuk akal seakan-akan masuk akal. Sementara jemaat yang sudah “berserah diri” hanya mampu menyahut ” Amin, Amin”. Gordon Urquhart dalam bukunya The Pope’s Armada, 1995, pada halaman belakang menjelaskan misi rahasia Kristen mencuci otak jemaat:

“The three most powerful of the ultra tradition-alist movement within the Catholic Church engage in secret initiation ceremonies, brainwashing techniques involving ego destruction, moral and spiritual intimidation and highly questionable, even dangerous psychtherapeutic practices.”
(Tiga kekuatan besar gerakan ultra-tradisional dalam Kristen Katolik, terlibat dalam upacara rahasia penerimaan anggota, teknik cuci otak termasuk penghancuran pribadi seseorang, intimidasi moral dan spiritual serta praktek­praktek pengobatan spiritual yang tidak lazim dan malah berbahaya).
Tertullian dalam bukunya “The Flesh of Christ”, hal. 5, memainkan jurus ini :

“The Son of God was crucified. 1 am not ashamed because it shameful. The Son of God died. It is credible because it is absurd. He was buried and rose again. It is certain because it is impossible”.
(Anak Tuhan di salib. Saya tidak malu karena ini memalukan. Anak Tuhan mati. Ini dipercaya karena tidak masuk akal. Dia dikuburkan dan bangkit kembali. Ini pasti karena tidak mungkin).
Mike Velarde, salah seorang pemimpin Kristen kharismatik di Filipina memperlihatkan keampuhan pengaruhnya terhadap lebih sejuta pengikutnya dilapangan Philippine International Convention Center dengan mengatakan bahwa mereka dapat memperoleh rejeki dari Tuhan dengan membalikkan payungnya keatas untuk menampung rejeki dari langit. Kemampuan Mike Velarde ini dikomentari oleh Pastor Robert Reyes di Harian Philippine Daily Inquirer terbitan 29 Desember 1999, hal. 9:

“Mike Velarde is better because he manages to fool poor people into believeing that he can make them rich. The people are desperate. Any promise that gives them hope to go for improved life, they’ll grab it”
(Mike Velarde lebih cerdik karena dia mampu memperdaya orang-orang miskin untuk percaya bahwa dia dapat membuat mereka menjadi kaya raya. Rakyat cukup menderita. (Oleh karena itu) setiap janji yang memberi mereka harapan untuk meningkatkan taraf hidup mereka, akan mereka rebut).

Sumber :
Menapaktilasi Asal-usul Dogma Ketuhanan Kristen
Oleh : H.S. Munir,SKM. MPH

Source : http://rumahsantri.multiply.com/journal/item/22

Sejarah Trinitas -1-

1. Latar Belakang

Kontroversi Trinitas, yang menimbulkan pertentangan pendapat
antara Arius dan Athanasius berakar pada masa lampau.
Seperti diketahui bahwa para Bapak Gereja dulu, tidak
mempunyai konsepsi yang jelas tentang Trinitas. Sebagian di
antara mereka membenarkan Logos sebagai "akal nonmanusiawi"
(impersonal reason), yang menjadi manusiawi pada saat
penciptaan, sementara yang lain memandang Dia sebagai
manusia yang ko-eternal dengan Bapak yang memiliki sifat
esensi kekekalan, dan sebagian lagi memandangnya sebagai
suruhan (subordination) atau kedudukannya di bawah Bapak Roh
Kudus tidak mendapat tempat penting dalam pembicaraan
mereka. Mereka membicarakan Dia (Yesus Kristus) dalam
kaitannya dengan pekerjaan penebusan jiwa dan hidup manusia.
Sebagian orang memandang Dia sebagai "yang tunduk" bukan
hanya kepada Bapak tetapi juga kepada Anak. Tertullian
adalah orang pertama yang secara gamblang menyatakan
tri-personalitas Tuhan serta mempertahankan pendapat tentang
keesaan substansial ketiga person tersebut. Namun dia belum
mampu menerangkan dengan jelas tentang doktrin Trinitas.

Sementara itu muncullah aliran Monarkianisme yang menekankan
keesaan Tuhan dan sifat ketuhanan Kristus, yang meliputi
penyangkalan Trinitas (jadi Trinitas tidak diartikan seperti
yang terkandung dalam arti kata tersebut). Tertullian dan
Hippolytus memperjuangkan pandangan-pandangan mereka di
Barat sementara Origen menentangnya habis-habisan di Timur.
Mereka membela kedudukan kaum trinitarian sebagaimana
diperlihatkan dalam keyakinan rasul (Kisah Rasul). Walaupun
demikian, pandangan Origen tentang Trinitas tidak seluruhnya
memuaskan. Dia berkeyakinan kuat bahwa baik Bapak maupun
anak merupakan hipostases abadi (kekal) atau personal
subsistence di dalam Tuhan. Sementara dia adalah orang
pertama yang menerangkan hubungan Bapak dengan anak dengan
menggunakan ide eternaI generation, dia menganggap hal ini
meliputi subordinasi orang kedua (second person) terhadap
orang pertama (first person) dalam kaitannya dengan esensi.
Bapak berkomunikasi dengan anak dan anak adalah sebagai
spesies sekunder kekekalan, yang dinamakan Theos, tetapi
bukan Ho Theos. Bahkan anak kadang-kadang dipanggil sebagai
Theos Deuteros. Ini merupakan cacat paling radikal dalam
doktrin Origen tentang Trinitas dan memberikan batu loncatan
bagi Arius. Cacat lain yang terdapat dalam pendapatnya
bahwa, penciptaan anak bukanlah perbuatan perlu (necessary
act) dari Bapak tetapi bersumber pada kehendak-Nya yang
berdaulat. Akan tetapi dia tidak melontarkan ide suksesi
temporal. Dalam doktrinnya tentang Roh Kudus dia masih
mengesampingkan representasi Kitab Injil. Dia bukan nanya
menempatkan Roh Kudus sebagai "bawahan" terhadap anak,
tetapi dia juga mengartikannya sebagai ciptaan anak. Bahkan
salah satu pernyataannya berimplikasi bahwa Dia hanyalah
sebagai suata ciptaan belaka.

2. Hakikat Kontroversi

a. Arius dan Arianisme

Perselisihan pendapat terbesar di kalangan pemikir Trinitas
adalah kontroversi pandangan Arius, karena
pandangan-pandangan "anti-trinitas" yang dilontarkan Arius,
seorang presbyter Alexandrux yang daya debatnya besar
walaupun jiwanya atau imannya diragukan. Ide dominan Arius
adalah asas monoteistis aliran Monarkianisme bahwa hanya ada
satu Tuhan (tidak mempunyai anak). Ada yang tidak mempunyai
asal usul, tanpa keberadaan sebelumnya. Dia membedakan
antara Logos yang tetap ada di dalam Tuhan, yang merupakan
kekuatan yang kekal dengan Anak atau Logos yang pada
akhirnya berinkarnasi. Anak atau Logos terakhir ini
diciptakan oleh Bapak yang dalam pandangan Arius berarti
bahwa dia diciptakan. Dia diciptakan sebelum alam semesta
ini diciptakan, dan dengan alasan ini berarti dia bukanlah
esensi yang kekal. Dia hanyalah yang terbesar dan pertama di
antara ciptaan-ciptaan lainnya dan melalui dialah alam
semesta ini diciptakan. Karena itu dia dapat diganti, tetapi
dia dipilih Tuhan demi keselamatan umat manusia, dan dia
dinamakan anak Tuhan. Dalam pengangkatannya sebagai anak
dialah yang disembah oleh manusia.

Dalam mendukung pandangan-pandangannya, Arius mencari;
sejumlah ayat Alkitab yang memperlihatkan anak berkedudukan
di bawah atau inferior terhadap Bapak seperti "Prov 8:22,
Mateus 28:18, Markus 13:32, Lukas 18:19, Johannes
5:19;14:28,1 Korintus 15:28."

b. Bantahan terhadap Arianisme

Arius mendapat bantahan pertama dari bishop Alexander yang
meyakini sifat ketuhanan yang sesungguhnya dimiliki anak dan
dalam waktu yang sama mempertahankan doktrin anak kekal yang
diciptakan. Akan tetapi sesuai dengan perjalanan waktu,
penentangnya ternyata adalah uskup Alexandria sendiri, yakni
Athanasius, yang dalam sejarah dikenal sebagai tokoh
kebenaran yang tegar, kukuh, dan tidak pernah ragu-ragu,
Seeberg mengemukakan tiga kekuatan atau kelebihan utama
Athanasius, yakni:

1. Keteguhan dan keaslian atau kemurnian karakternya;
2. Landasannya yang pasti di atas mana dia susun konsepsi
tentang keesaan Tuhan;
3. Kebijaksanaannya dalam menerangkan kepada umatnya agar
mengakui hakikat dan makna Kristus.

Dia berpendapat bahwa memandang Kristus sebagai ciptaan sama
dengan menyangkal pandangan bahwa iman terhadap dia membawa
keselamatan bagi umat manusia.

Dia sangat menekankan keesaan Tuhan dan mau mengakui doktrin
Trinitas yang tidak membahayakan konsep keesaan ini.
Sementara bapak dan anak sama-sama memiliki sifat atau
esensi kekekalan yang sama, sesungguhnya tidak ada pembagian
atau pemisahan dalam The essential being of God, dan adalah
salah bila disebutkan Theos Deuteros. Tetapi di samping
menekankan keesaan Tuhan, dia juga mengakui adanya tiga
hipostases dalam Tuhan. Dia menolak untuk meyakini "Anak
yang diciptakan sebelum yang lain diciptakan" seperti yang
dianut Arius dan mempertahankan eksistensi kekal dan
independen anak. Dalam waktu yang sama dia berpendapat bahwa
ketiga hipostases dalam Tuhan jangan dilihat sebagai hal
yang sendiri-sendiri, karena jika demikian, bisa bermuara
kepada politeisme. Menurut dia, keesaan Tuhan maupun
perbedaan-perbedaan dalam keberadaan-Nya paling tepat
dinyatakan dengan "keesaan esensi." Ini berarti bahwa anak
mempunyai substansi sama dengan substansi Bapak, tetapi juga
berarti bahwa keduanya bisa berbeda dalam aspek lain,
misalnya dalam personal subsistensinya. Seperti Origen, dia
mengajarkan bahwa anak adalah hasil penciptaan (begotten by
generation), tetapi berbeda dari Origen, dia menerangkannya
penciptaan ini merupakan tindakan kerahasiaan Tuhan, bukan
sebagai tindakan yang semata-mata bergantung kepada
kedaulatan Tuhan.

3. Dewan Nicaea

Dewan Nicaea dibentuk tahun 325 untuk memecahkan
pertentangan pandangan ini. Persoalan atau kontroversi ini
diperjelas agar pembahasannya lebih mudah. Pengikut Arius
menolak pandangan tentang penciptaan eternal (penciptaan
yang bebas dari dimensi waktu), sementara Athanasius
mempertahankannya. Pengikut Arius mengatakan bahwa anak
diciptakan dari tidak ada, sementara Athanasius mengatakan
bahwa dia diciptakan dari esensi Bapak. Pengikut Arius
berpendapat bahwa anak tidak sama substansinya dengan Bapak
sementara Athanasius berpendapat bahwa anak adalah
homoousios dengan Bapak.

Di samping kedua pihak yang bertentangan itu masih ada pihak
tengah yang merupakan mayoritas yang dipimpin oleh ahli
sejarah gereja, yakni Eusebius dari Caesarea, dan juga
dikenal sebagai pihak Origenistik dan landasan pandangannya
adalah asas-asas yang dikemukakan Origen. Pihak ini condong
kepada pihak Arius dan menentang doktrin bahwa anak sama
substansinya dengan Bapak (homoousios). Pihak ini mengajukan
suatu pernyataan yang telah diketengahkan Eusebius, yang
menyerahkan segala sesuatunya kepada pihak Alexander dan
Athanasius dengan satu pengecualian yakni doktrin di atas;
dan menyatakan bahwa istilah homoousios hendaknya diganti
dengan homoiousios; jadi mereka mengajarkan bahwa anak sama
substansinya dengan Bapak. Setelah melalui perdebatan yang
panjang akhirnya pihak Athanasius berhasil memenangkannya.
Dewan Nicaea akhirnya mengeluarkan pernyataan: Kita percaya
kepada Tuhan Yang Esa, Bapak yang Mahabisa, Pencipta yang
tampak maupun tidak tampak. Dan percaya pada satu tuhan
Yesus Kristus yang sama substansinya (homoousios) dengan
Bapak dan seterusnya. Ini merupakan pernyataan yang tegas,
dimana esensi anak dinyatakan identik dengan esensi Bapak;
sama tingginya dengan Bapak serta mengakui Kristus sebagai
autotheos.

4. Akibat-akibatnya

a. Dampak negatif keputusan tersebut

Keputusan yang dihasiIkan Dewan Nicaea tidak menyelesaikan
kontroversi Trinitas, bahkan ternyata merupakan awal dari
kontroversi tersebut. Penyelesaian yang diberlakukan Gereja
dengan dukungan kerajaan tidaklah memuaskan dan juga
diragukan tidak akan bertahan lama. Hal ini berakibat
penentuan keimanan orang Kristen bergantung kepada
pandangannya atau kekuasaan kerajaan dan bahkan bergantung
kepada intrik-intrik pengadilan. Athanasius sendiri,
walaupun memenangkan perdebatan, tidak puas dengan cara atau
metode pemecahan masalah kegerejaan atau kerohanian seperti
itu. Dia cenderung berusaha meyakinkan para penentangnya
dengan kekuatan argumen-argumen yang diajukan karena dari
kenyataan di atas nyatalah bahwa pergantian kaisar atau
raja, perubahan suasana, bisa mengubah seluruh aspek
kontroversi tersebut. Pihak yang dimenangkan sekarang bisa
menjadi pihak yang dikalahkan atau dipersalahkan di kemudian
hari oleh kerajaan. Dan inilah yang sering terjadi dalam
sejarah selanjutnya.

b. Para penganut temporer semi-arianisme dalam Gereja
Timur

Figur sentral terbesar dalam masalah kontroversi Trinitas
pasca-Nicaea adalah Athanasius. Dia merupakan tokoh terbesar
pada zaman tersebut; dia seorang cendekiawan yang pintar,
karakternya teguh, dan teguh terhadap keyakinannya, serta
rela mati atau menderita demi kebenaran. Gereja semakin
cenderung menerima pandangan Arianisme, tetapi masih
didominasi pandangan semi-arianisme, dan penguasa (kerajaan)
biasanya berpihak kepada pandangan kaum mayoritas, sehingga
akibatnya timbullah pernyataan atau desas-desus Unus
Athanasius contra orbem yang artinya "Satu Athanasius
melawan dunia." Lima kali hamba Tuhan ini mendapat hukuman
pengasingan serta mendapat perlakuan-perlakuan buruk, serta
dikucilkan dari gereja.

Tantangan terhadap Pernyataan Nicaea (Nicene Creed) berasal
dari beberapa pihak yang berbeda. Ujar Cunningham: "Para
pengikut Arius yang lebih ekstrim mengatakan bahwa anak
adalah heteroousios, substansinya tidak sama dengan
substansi Bapak; yang lain menyatakan bahwa anak adalah
anomoios, tidak seperti Bapak, dan sebagian lagi, yang
biasanya dinamakan semi-arianisme menyatakan bahwa: dia
adalah homoiousios, artinya substansinya mirip substansi
Bapak; tetapi mereka semuanya menolak fraseologi Nicaea
karena mereka menentang doktrin Nicaea tentang ketuhanan
anak dan mereka melihat serta berkeyakinan bahwa fraseologi
tersebut secara akurat dan tegas menyatakan hal itu,
walaupun mereka kadang-kadang menambah-nambahkan keberatan
lain terhadap pemakaian fraseologi tersebut (lihat
Historical Theology I halaman 290). Aliran semi-arianisme
mendapat pengikut di daerah Timur wilayah Gereja. Akan
tetapi, daerah Barat mempunyai pandangan yang berbeda
tentang masalah tersebut, dan mereka setia kepada Dewan
Nicaea. Hal ini terutama dapat kita lihat dari kenyataan
bahwa sementara Gereja Timur didominasi oleh pandangan
Origen bahwa anak lebih rendah daripada Bapak, Gereja Barat
sebagian besar dipengaruhi oleh pandangan Tertullian serta
mengembangkan suatu jenis teologi yang lebih serasi dengan
pandangan-pandangan yarg diperjuangkan oleh Athanasius. Akan
tetapi, di samping itu persaingan atau rivalitas antara Roma
dan Konstantinopel hendaknya diperhitungkan juga. Pada waktu
Athanasius diusir dari Timur, dia diterima dengan tangan
terbuka di Barat; dan Dewan Roma (341) dan Sardica (343)
secara tanpa syarat mengesahkan doktrin yang diperjuangkan
oleh Athanasius.

Akan tetapi, kehadirannya di Barat diperlemah serta dihambat
oleh naiknya posisi Marcellus dan Ancyra dalam tokoh-tokoh
teologi Nicaea. Dia kembali meyakini perbedaan antara
eternal Logos dan impersonal Logos yang terdapat dalam
hakikat Tuhan, yang menyatakan diri di dalam bentuk kekuatan
kekal (divine energy) dalam pekerjaan penciptaan, dan Logos
menjadi personal pada saat reinkarnasi; menyangkal bahwa
istilah generation (kelahiran) dapat diterapkan terhadap
Logos yang tidak ada sebelumnya (pre-existent Logosi) dan
karena itu membatasi penggunaan nama "Anak Tuhan" hanya
kepada Logos yang berinkarnasi; dan berkeyakinan bahwa pada
akhir masa hidup inkarnasinya, Logos akan kembali kepada
hubungan premundanenya (premundane relation) dengan Bapak.
Teorinya ini jelas membenarkan tindakan para pengikut atau
penganut paham Origenis atau Eusebius dalam menghadapi
pandangan sabellianisme, dan karena itu juga merupakan
faktor yang memperlebar perbedaan antara Barat (Roma) dengan
Timur (Konstantinopel).

Ada berbagai usaha yang telah dilakukan untuk menyelesaikan
perbedaan pendapat atau perselisihan tersebut. Berbagai
Dewan telah mengadakan persidangan di Antiokia; yaitu
dewan-dewan yang mengakui definisi-definisi yang dikeluarkan
Dewan Nicaea, walaupun dengan dua pengecualian penting.
Mereka mengakui konsepsi homoiousios dan kelahiran anak
sebagai perbuatan kehendak Bapak. Hal ini, sudah tentu tidak
memuaskan pihak Barat. Sinode-sinode dan Dewan-dewan lain
mengikut, di mana pengikut Eusebius mencari pengakuan Barat
akan deposisi Athanasius, dan membentuk mazhab-mazhab lain
sebagai perantara. Tetapi, semua usaha ini sia-sia sampai
naiknya Constantius sebagai kaisar tunggal dan dengan
berbagai taktik cerdik dalam menarik para bishop Barat ke
garis Eusebius pada Sinode di Arles dan Milan (355).

c. Pembalikan pasang

Sekali lagi terbukti bahwa kemenangan adalah hal yang
berbahaya jika landasan kemenangan itu adalah keburukan.
Ternyata hal serupa merupakan sinyal atau pertanda bagi
kekacauan pihak anti-Nicene (penentang doktrin Nicaea).
Unsur-unsur heterogen yang membentuk pihak ini, dipersatukan
oleh sikap menentang mereka terhadap pihak Nicene (Nicaea).
Tetapi, segera setelah tekanan-tekanan dari luar mereda,
kelemahannya; yakni tidak adanya kesatuan intern menjadi
semakin nyata dan menonjol. Penganut paham Arianisme dan
semi-arianisme mulai berselisih, sementara kelompok terakhir
ini sendiri tidak mampu bersatu. Pada Dewan Sirmium (357)
ada usaha untuk mempersatukan semua pihak dengan
mengesampingkan masalah-masalah penggunaan istilah-istilah
tertentu seperti ousia, homoousios, dan homoiousios, dengan
menyatakannya sebagai di luar jangkauan pengetahuan manusia.
Tetapi perpecahan sudah terlanjur terjadi. Para penganut
Arianisme sejati mulai memperlihatkan belangnya, dan mereka
memaksa penganut semi-arianisme yang paling konservatif ke
dalam kamp Nicene.

Sementara itu muncullah suatu pihak baru di Nicene, yang
terdiri atas orang-orang yang merupakan murid Mazhab
Origenis, tetapi cenderung dikelompokkan sebagai pengikut
Athanasius dan Nicene Creed (Pernyataan Nicaea) karena
mereka mempunyai interpretasi yang lebih sempurna tentang
kebenaran. Tokoh-tokohnya antara lain adalah Tiga Bersaudara
yaitu: Cappadocians, Basil yang Agung, Gregory dari Nyssa,
dan Gregory dari Nazianzus. Mereka melihat sumber
kesalahpahaman di dalam pemakaian istilah hipostases;
istilah ini dianggap sinonim dengan ousia (esensi) maupun
prosopon (person), dan karena itu mereka membatasi
penggunaan istilah ini hanya untuk arti personal subsistence
dari Bapak dan anak (personal subsistence of Father and
Son). Tidak seperti Athanasius yang mengambil titik tolak
keesaan ousia abadi dari Tuhan (one divine ousia of God),
mereka mencari titik tolak dari ketiga hipostases (person)
dalam ada-kekal (divine being), dan mereka berusaha
memasukkannya di dalam konsepsi ousia kekal atau ousia abadi
(divine ousia). Gregory memperbandingkan hubungan ketiga
person dalam Godhead dengan ada-kekal dengan hubungan ketiga
orang tersebut dan dengan humanitasnya.

Dengan penekanan mereka terhadap ketiga hipostases dalam
ada-kekal nyatalah bahwa mereka membebaskan doktrin Nicaea
dari noda Sabellianisme di mata pengikut Eusebius, dan bahwa
personalitas Logos adalah cukup jelas. Bersamaan dengan itu
dipertegas dan dipertahankannya ide keesaan ketiga person
tersebut di dalam Godhead serta mengilustrasikan pengertian
ini dengan berbagai cara.

d. Perselisihan tentang roh kudus

Hingga kini, roh kudus belum banyak mendapat perhatian dan
pembahasan, walaupun telah muncul berbagai opini yang
simpang-siur tentang subyek tersebut. Arius berpendapat
bahwa roh kudus adalah sesuatu yang pertama diciptakan oleh
anak, suatu pendapat yang dalam banyak hal sesuai dengan
pandangan Origen. Athanasius berpendapat bahwa esensi roh
kudus sama dengan esensi Bapak tetapi pernyataan Nicene
hanya mengeluarkan satu pernyataan yang tidak pasti tentang
hal ini, "Dan (saya percaya) di dalam roh kudus." Kelompok
Cappadocian mengikuti atau menganut opini atau pandangan
Athanasius dan dengan penuh semangat mempertahankan opini
yang menyatakan homoousios roh kudus. Hilary dari Poitiers
di Barat berpendapat bahwa roh kudus sebagai pencarian ke
dalam Tuhan, bukanlah sesuatu yang di luar esensi kekal
(divine essence). Pendapat yang berbeda dikemukakan oleh
Macedonius, bishop Kota Konstantinopel, yang menyatakan
bahwa roh kudus adalah suatu ciptaan yang lebih rendah
(subordinate) daripada anak (tunduk terhadap anak), akan
tetapi pendapat ini pada umumnya dianggap heretik (berbau
murtad), dan para pengikutnya digelari aliran Pneumatokis
(pneuma = spirit, machomai = ucapan iblis). Pada waktu Dewan
Umum Konstantinopel mengadakan pertemuan pada tahun 381,
dewan ini mengumumkan bahwa mereka mengakui pernyataan
Nicaea, yang dipimpin Gregory dari Nazianzus menerima
perumusan berikut tentang roh kudus: "Dan kami percaya di
dalam roh kudus, Tuhan Pemberi Kehidupan, yang berasal dari
Bapak yang akan dimenangkan oleh Bapak dan anak, dan yang
berbicara melalui para nabi."

e. Penyempurnaan doktrin Trinitas

Pernyataan Dewan Konstantinopel ternyata tidak lengkap dalam
dua hal: pertama, istilah homoousios tidak digunakan,
sehingga konsubstansialitas roh dengan Bapak tidak
dipastikan secara langsung; kedua, hubungan roh kudus dengan
kedua person lain tidak didefinisikan. Pernyataan ini
berimplikasi bahwa roh kudus berasal dari Bapak, sementara
tidak ada sangkalan maupun pembenaran bahwa dia (roh kudus)
juga berasal dari anak. Tidak ada kesepakatan pendapat
tentang masalah ini. Mengatakan bahwa roh kudus berasal dari
Bapak saja, seakan-akan menyangkal keesaan anak dengan
Bapak; dan mengatakan roh kudus juga berasal dari anak,
bagaikan menempatkan roh kudus pada kedudukan yang lebih
dependen daripada kedudukan anak dan sekaligus merupakan
sangkalan akan sifat ketuhanan roh kudus itu sendiri.
Athanasius, Basil dan Gregory dari Nyssa meyakini
keberasalan roh kudus dari Bapak tanpa menentang doktrin
bahwa roh itu juga berasal dari anak. Tetapi Epiphanius dan
Marcellus dari Ancyra secara positif membenarkan doktrin
ini.

Ahli-ahli teologi Barat meyakini bahwa roh kudus berasal
dari Bapak dan anak; dan pada sinode di Toledo pada tahun
589, filioque yang terkenal itu ditambahkan ke dalam lambang
aliran Konstantinopel (Constantinopolitan Symbol). Di Timur,
perumusan akhir doktrin itu dibuat oleh Johannes dari
Damascus (John of Damascus). Menurut dia, hanya ada satu
esensi kekal (divine essence), tetapi ada tiga person atau
hipostases. Ketiga hipostases atau person ini dipandang
sebagai realitas dalam ada-kekal (divine being), tetapi satu
sama lain berhubungan tidak seperti tiga orang. Mereka
(ketiga orang) tersebut adalah satu dalam segala hal,
kecuali dalam cara penampakannya (pola eksistensinya). Bapak
dicirikan oleh non-generation, anak dicirikan oleh
generation dan roh kudus dicirikan oleh prosesi
(procession). Hubungan antarperson itu disebutkan sebagai
satu mutual interprenetation (circumincession). Dengan tidak
menyangkal penolakannya atas pandangan subordinasionisme,
Johannes dari Damascus masih menyebutkan Bapak sebagai
sumber Godhead, dan menggambarkan roh kudus sebagai yang
dianugerahkan Bapak melalui Logos. Ini masih tetap merupakan
subordinasionisme dalam tafsir Yunani. Gereja Timur tidak
pernah memberlakukan filioque Sinode Toledo. Inilah sumber
perbedaan pandangan antara gereja Timur dan Barat.

Konsepsi Barat tentang Trinitas mencapai fase akhir di
tangan Augustine melalui karya besarnya yang berjudul De
Trinitate. Dia juga menekankan atau menitikberatkan keesaan
esensi dan trinitas person tersebut. Masing-masing person
tersebut memiliki esensi keseluruhan dan sebegitu jauh
identik dengan esensi person lainnya. Mereka tidak seperti
tiga manusia, karena masing-masing manusia hanya memiliki
sebagian dari sifat generik manusia. Lebih lanjut, satu
person tidak, dan tidak akan pernah terpisah dari person
yang lain; hubungan kebergantungan di antara ketiga person
tersebut adalah hubungan mutual. Esensi kekal dimiliki
ketiga person itu dilihat dari sudut yang berbeda; yakni
sebagai yang menimbulkan, yang ditimbulkan, atau yang diberi
jiwa. Di antara ketiga hipostases tersebut terjalin suatu
hubungan interpenetrasi dan saling-pendiaman mutual. Istilah
person menurut Augustine tidak cocok untuk menyatakan
hubungan di mana ketiga person itu ada saling menempati; dia
tetap menggunakan istilah itu bukan untuk menggambarkan
hubungan itu, tetapi untuk tidak berdiam. Dalam konsepsi ini
tentang Trinitas, roh kudus diakui sebagai berasal
(proceeding) bukan hanya dari Bapak, tetapi juga dari anak.

Source : http://www.sarapanpagi.org/sejarah-trinitas-vt2969.html

"Anak" Tuhan

Julukan 'Anak Tuhan' ini seringkali menjadi bahasan diberbagai diskusi yang terjadi antara kedua agama (Kristen dan Islam), berikut adalah 2 argumen yang selalu diutarakan dari pihak Kristen mengenainya:
1. Bahwa 'Anak Tuhan' tidak bisa diartikan secara harfiah
2. Bahwa 'Anak Tuhan' itu berarti Tuhan Anak yang menjadi bagian dari salah satu entitas dalam Trinitas, sebuah kesatuan dengan Tuhan Bapa dan Tuhan Roh (Roh Kudus)

Kedua argumen diatas sama sekali bertentangan terhadap satu sama lainnya, karena
1. jika tidak dapat diartikan secara harfiah maka julukan tersebut sama berlakunya dengan sebutan yang diberikan kepada pengikut Kristen yang sering disebut sebagai Anak-anak Tuhan.. apakah itu lalu berarti Kristiani juga adalah Tuhan?
2. bahwa kata 'anak' merupakan gambaran sebagai recipient (penerima) kehidupan, sedangkan kata 'Tuhan' menggambarkan sifat Ketuhanan, menggambarkan Dia yang idak membutuhkan kehidupan dari siapapun sehingga kedua kata tersebut, 'Anak' dan Tuhan', tidak bisa disampingkan karena kemudian memiliki arti yang saling menentang.

Terhadap kedua tanggapan diatas ini, pada akhirnya orang Kristen selalu kembali menggunakan kalimat seperti, " Kita tidak dapat memahami semua yang dimaksudkanNya ", seolah-olah agama Kristen adalah sebuah agama Misteri Ilahi.

Konsep verifikasi dan pemahaman ini bisa kita jadikan ilustrasi seperti berikut;
Sebuah reaksi kimia pasti dapat diverifikasi, akan tetapi atom, tidak bisa dipahami dengan cara yang sama. Cara diatas inilah yang menjadi kunci perbedaan antara Kristen dan Islam dalam membuktikan sesuatu.

Jadi sebenarnya, pertanyaan yang tepat bukanlah "Bagaimana Trinitas" itu, karena hal tersebut dapat dijelaskan (Trinitas adalah bla bla bla - walaupun telah sungguh jelas Trinitas tersebut adalah hasil keputusan Dewan Nicea pada tahun 325 akibat kontroversi yang timbul antara Arius dan Athanasius), melainkan "Mengapa Yesus harus menjadi Tuhan?" dan "Manakah ucapan Yesus yang menyatakan bahwa ia setara dengan Tuhan?", Bisakah kita menguji konsep ini?

Yesus menggunakan istilah 'anak manusia', 'anak Tuhan', 'mesias'(Yang Diurapi), dan 'savior', namun ternyata istilah-istilah tersebut juga digunakan untuk merujuk kepada orang-orang selain dia (Yesus) ;
1. Kepada nabi Yehezkiel, Yehezhiel 3:1, " Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, makanlah apa yang engkau lihat di sini; makanlah gulungan kitab ini dan pergilah, berbicaralah kepada kaum Israel."
2. Kepada para pembawa kedamaian, Matius 5:9, " Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. "
3. Kepada Cyrus (Koresy), Raja Persia, Yesaya 45:1, " Beginilah firman TUHAN: "Inilah firman-Ku kepada orang yang Kuurapi, kepada Koresh yang tangan kanannya Kupegang supaya Aku menundukkan bangsa-bangsa di depannya dan melucuti raja-raja, supaya Aku membuka pintu-pintu di depannya dan supaya pintu-pintu gerbang tidak tinggal tertutup "

" Sikap mendua para penerjemah Alkitab terlihat dengan diterjemahkannya kata 'Mesiah' yang tidak menunjuk kepada Yesus sebagai 'Yang Diurapi' (atau 'Yang Kuurapi', menurut Alkitab standar Indonesia). Sementara itu ayat-ayat Alkitab yang merujuk kepada Yesus mereka terjemahkan dengan 'Mesiah' atau padanan kata Yunani Christ (Kristus). Dengan cara ini mereka berusaha memberi kesan bahwa hanya ada satu Mesias (Mesiah). Untuk orang selain Yesus mereka menggunakan kata savior (atau 'penolong' dalam Alkitab versi Indonesia, seperti yang tercantum dalam 2 Raja-raja 13:5. Disamping itu, orang Kristen sering menunjuk pasal 43 Yesaya sebagai bukti bahwa hanya ada satu juru selamat. " (kutipan dari buku Bible Menurut Mantan Kristen, oleh : G. Miller, hal. 18)

2 Raja-raja 13: 5, " TUHAN memberikan kepada orang Israel seorang penolong, sehingga mereka lepas dari tangan Aram dan dapat duduk di kemah-kemah mereka seperti yang sudah-sudah."

Argumentasi kemudian sering beranjak menggunakan Yohanes 8:58 (Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.), untuk menunjukkan bahwa Yesus secara tidak terang-terangan memberitahu dan mengakui bahwa dirinya adalah Tuhan.. Benarkah?

Yeremia 1:5, " "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa."

Yohanes 8; 58 diterjemahkan secara harfiah oleh orang Kristen, bahwa Yesus secara harfiah telah ada sebelum abrahan, tetapi Yeremia 1:5 ditolak orang Kristen untuk diterjemahkan secara harfiah juga (bahwa Allah telah mengenal nabi Yeremia sebelum dia menjadi janin, harfiahnya adalah bahwa nabi Yeremia telah mengalami kehidupan sebelum manusia).

Kemudian, biasanya merujuk kepada perbedaan asal bahasa, Kristen umumnya akan mengatakan bahwa kenapa Yeremia dan Yohanes diatas tidak dapat diterjemahkan dengan cara yang sama (harfiah) adalah karena kitab Yeremia diterjemahkan dari bahasa Ibrani sedangkan Yohanes dari bahwa Yunani.

Baiklah, kita gunakan metode yang sama,
Keluaran 3:14, "Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu."

1. Keluaran ditulis dalam bahasa Ibrani, Yohanes ditulis dalam bahasa Yunani.
2. Semua kata-kata Yesus, kecuali sedikit diantaranya tercatat dalam bahasa Yunani.
3. Kira-kira 200 tahun sebelum masa Yesus, orang Yahudi memakai terjemahan Yunani untuk kitab-kitab suci mereka (Septuaginta) dan menterjemahkan kata 'Aku' didalam Keluaran dengan 'Ho On', dan 'Aku' dalam Yohanes dengan 'Ego Eimi'.
Kesimpulan; jika kitab yohanes dimaksudkan mengartikan Yesus identik dengan Tuhan kepada para pembaca berbahasa Yunani maka seharusnya penulis kitab Yohanes ini menggunakan kata-kata yang sudah lazim dalam Septuaginta. Ini membuktikan bahwa Yohanes 8:58 dengan arti yang selama ini diyakini orang Kristen kemudian menjadi diragukan kebenarannya.

Berikut, ayat ini juga sering digunakan;
Yohanes 10:30, Yesus mengatakan 'Aku dan Bapa adalah satu' ('satu' dalam bahasa Yunani = hen)
Pernyataan itu menjadi tidak berdasar karena, kata-kata yang sama sebenarnya juga dipakai Yesus menyatakan dia dan murid-muridnya juga adalah satu (Yohanes 17:11, 21, 22, 23)

Akhirnya kemudian mereka akan memakai ayat Yohanes 3:16, " Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

Kata 'Tunggal' menurut orang Kristen mengacu kepada 'anak Tuhan' yang satu-satunya dan bukannya 'anak-anak Tuhan' yang lain, mungkin mereka lupa bahwa kata 'tunggal'
tersebut juga terdapat pada Ibrani 11:17, "Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal ", padahal itu mengacu pada Ishak sedangkan Ishak bukanlah anak tunggal Ishmael..

Ok, mungkin Ishak disebut anak tunggal karena Ishmael hidup tidak lebih lama ayahnya? Tidak!
Kejadian 25:9, " Dan anak-anaknya, Ishak dan Ismael, menguburkan dia dalam gua Makhpela, di padang Efron bin Zohar, orang Het itu, padang yang letaknya di sebelah timur Mamre "

Atau mungkin ada maksud tersembunyi khusus dari para penulis Perjanjian Baru menulis Ibrani 11:17 tersebut?

Seharusnya setiap ayat harus dapat membuktikan kebenaran tentang suatu hal, dan kalau tidak maka kebenaran tersebut otomatis akan gugur (dengan sendirinya)

Tuesday, May 4, 2010

Tuhan sebenarnya dalam Alkitab

" Dengarlah hai orang Israel, TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu Esa!..." Ulangan 6:4

Ada beberapa argumen berkembang dengan mulai mengartikan kata 'Esa' sebagai 'sebuah kelompok yang terdiri lebih daripada satu', kenyataannya kata 'Ahad' yang terdapat pada teks asli yang ditulis dalam bahasa Ibrani memiliki makna 'satu entitas', seperti kata 'One' dalam bahasa Inggris yang berarti 'Satu', bukannya 'Satu kesatuan dari beberapa entitas).

" Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya? ", Bilangan 23:19

Ayat diatas menunjukkan bahwa Allah bukanlah manusia, dan dengan pernyataan ini tidaklah mungkin Allah kemudian dengan sengaja (apalagi dengan tidak sengaja) memakai wujud manusia dengan tujuan menyelamatkan umat hanya karena umat tidak mungkin melihatNya secara langsung kalau tidak mereka akan mati, seperti argumen yang sering diungkapkan ketika muncul pertanyaan 'kenapa Allah harus berinkarnasi menjadi manusia (Yesus)?'


" See now that I, even I, am He, and there is no god with Me ", Deuteronomy 32:39 (Ulangan 32;39) , alkitab versi KJV, ASV, ERV, WEB, TSK, GSB, AKJ, DBY, KJP, WBS, YLT,

Kata 'with' diatas, berganti menjadi
'besides' dalam alkitab versi NIV, NAS, ESV, DRB, OJB,
'but' dalam versi NLT, BBE,
tidak terdapat dalam versi GWT

kata 'no God with Me', berarti tidak ada etintas lainnya dalam Tuhan yang Satu tersebut

" 'Kamu inilah saksi-saksiKu', demikian firman Tuhan, 'dan hambaKu yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepadaKu dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia, Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi' ", Yesaya 43:10

Baiklah, mari sekarang kita gunakan argumen yang sering digunakan orang Kristen bahwa Perjanjian Lama telah dibuang, dipakukan ke tiang salib, kita pakai injil, apakah yang dimaksudkan dengan Tuhan yang sebenarnya dalam Perjanjian Baru?

" Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja ", Markus 10:18

"Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.", Markus 12:29

" Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. ", Markus 12:32

" Seorang pengantara bukan hanya mewakili satu orang saja, sedangkan Allah adalah satu. ", Galatia 3:20

" Karena Allah itu esa dan esa pula dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus. " 1 Timotius 2;5

" Thou believest that God is one; thou doest well: the demons also believe, and shudder. ", James 2:19, ASV, sayangnya dalam alkitab bahasa Indonesia ini menjadi berbeda maknanya dengan adanya tambahan kata 'tetapi', " Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.", Yakobus 2:19

Cat:
1. Jelas Yesus sendiri mengakui bahwa dia bukanlah Allah, dan hukum yang terutama adalah dengan meyakini bahwa Allah itu Esa
2. Paulus sendiri mengakui bahwa Yesus adalah seorang perantara dan seorang manusia biasa. Ia mengatakan bahwa Allah adalah satu oknum, dan Yesus juga adalah satu oknum (manusia - sesuai pengakuannya kemudian 'manusia Yesus Kristus')

Tuhan dalam Islam dan Kristen

Sepengetahuan saya,
Tuhan dalam Islam :
Adalah Zat yang konsisten dan tidak sewenang-wenang, dan sifat esensialNya adalah keadilan, dengan 8 sifat metafisik yaitu;
Qadir (Yang Maha Kuasa)
Alim (Yang Maha Tahu)
Mudrik (Yang Maha Mengerti)
Hayyun (Yang Kekal)
Murid (Yang Tidak Bergantung baik dalam kehendak atau tindakan)
Mutakallim (Pencipta Ucapan)
Shadiq (Yang Maha Benar)
yang bukan personal atau jumlah

Sepengetahuan saya menurut Kristen, Tuhan adalah :
1 oknum dengan 3 sifat, atau
1 oknum dengan 3 pribadi, atau
...
yaitu Tuhan Bapa
Tuhan Anak
Tuhan Roh
yang kemudian menurut saya bisa dibilang memiliki beberapa sifat metafisik ini:
Murakkab (kompleks; bersusun)
Makan (bertempat)
Hulul (inkarnasi; penjelmaan)
Mar'an (terlihat)
Ihtiyaj (membutuhkan)
Syirkat (bersekutu)
Thaghayyur (berubah)
Shifat Zaid (memiliki ciri-ciri tambahan)

Jadi jelas, konsep Tuhan menurut Islam tidak dapat diterima Kristen, demikian juga sebaliknya

Menjawab Komentar Postingan May 11, 2009

Berikut adalah tanggapan saya terhadap komentar mengenai postingan berikut
http://www.obeyhim.co.cc/2009/05/kisah-para-rasul-3-21-23.html

Komentarnya adalah seperti ini :
Harus dibaca satu perikop kisah 3, bermula saat Petrus menyembuhkan orang lumpuh, kemudian banyak orang heran, dan akhirnya Petrus berkata (ayat 12). Ayat 18 mengatakan bahwa Mesias yg diutusNya harus menderita sebagai kegenapan firman, ayat 20 mengatakan Tuhan mengutus Yesus sebagai Kristus.

ayat 21-23 ini mengutip perkaatan Musa di ulangan 18:15, 18-19.

ciri nabi yang tidak benar selanjutnya bisa dilihat di ayat 21-22 "perkataannya tidak terjadi dan tidak sampai".bagaimana dengan Yesus?..silahkan buktikan sendiri

Kristus dan Allah adalah satu kesatuan (Yoh 1), mengapa harus berwujud "manusia Yesus" saat datang ke dunia? salah satunya agar manusia bisa menerima keberadaan Allah di tengah2 manusia, manusia akan mati bila melihat kemuliaan Allah secara langsung (Keluaran 19:21)

Berikut adalah Kronologis Kisah 3 (keseluruhan perikop yang dimintanya untuk saya perhatikan) :

Kisah Para Rasul 3 : 1-10
1. Petrus datang ke Bait Allah
2. Bertemu seorang pengemis timpang
3. Pengemis sembuh lalu sejak itu semua yang mengetahui pengemis itu takjub

Kisah Para Rasul 3: 11-26 (perikop terpisah, tempat peristiwa berbeda)
4. Pengemis itu terus mengikuti Petrus hingga mereka tiba diserambi salomo
5. Petrus menegur orang-orang yang keheranan dengan mengatakan hal itu bukan karena kesalehan Petrus tapi karena kuasa Yesus orang yang mereka tolak dan serahkan ke pilatus
6. Petrus membahas karena tindakan orang-orang tersebut menolak Yesus maka mereka dikatakan telah membunuh Yesus tapi telah dibangkitkan dan Petrus sampai bersumpah bahwa ia saksinya (padahal tak seorangpun menyaksikan peristiwa Yesus dibangkitkan)
7. Petrus mengatakan pengemis lumpuh itu sembuh karena imannya kepada Yesus (padahal sebenarnya yang terjadi adalah pengemis itu awalnya mendatangi Petrus untuk meminta sedekah bukan untuk minta kesembuhan (Kisah 3:3-6 " Ketika orang itu melihat bahwa Petrus dan Yohanes hendak masuk ke Bait Allah, ia meminta sedekah. Lalu orang itu menatap mereka dengan harapan akan mendapat sesuatu dari mereka. Tetapi Petrus berkata : Emas dan Perak tidak ada padaku, tetapi apa yang aku punyai kuberikan kepadamu : Demi nama Yesus Kristus orang Nazaret itu, berjalanlah!)
8. Petrus memaklumi perbuatan mereka karena ketidaktahuan sama seperti semua pemimpin mereka lalu mengutip nubuatan nabi Musa mengenai seseorang yang disebut Mesias yang diutusnya harus menderita (:18 = Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang difirmankanNya dahulu dengan perantara nabi-nabiNya, yaitu bahwa Mesias yang diutusNya harus menderita), dengan maksud menunjukkan bahwa Yesus memang harus menderita seperti yang dimaksud Musa
9. Petrus kemudian meminta mereka bertobat supaya waktu kelegaan itu datang dengan diutusNya Yesus yang semula diperuntukan menjadi Kristus (note = perhatikan arti kata Kristus)
10. Barulah kemudian Petrus menyebut ayat 21-23 (baca http://www.obeyhim.co.cc/2009/05/kisah-para-rasul-3-21-23.html) yang mengatakan bahwa Kristus itu harus tinggal disorga sampai waktu pemulihan.


Berikut, saudara hermawan mengatakan bahwa ciri-ciri nabi yang tidak benar ada pada ayat 21-22

Berikut adalah kutipan ayat 21-22 " Kristus itu harus tinggal di sorga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabiNya yang kudus di zaman dahulu. Bukankah telah dikatakan Musa : Tuhan Allah akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku ; Dengarkanlah dia dalam segala sesuatu yang dikatakannya kepadamu "

Saya tidak menemukan pendeskripsian ciri-ciri nabi yang tidak benar yang dimaksudkan saudara hermawan.

Menanggapi argumen anda mengenai Kristus dan Allah adalah 1 kesatuan yang menurut anda terdapat dalam Yoh 1 itu juga tidak saya temukan, bahkan saya telah mencoba mengecek Yoh 1 dan 1 yoh 1, kalau-kalau terjadi kesalahan ketik pada tanggapan anda, tetapi tetap saya tidak menemukan statement tersebut.

Kalaupun statement tersebut (Kristus dan Allah adalah satu kesatuan) ada dalam bagian alkitab yang lainnya maka ayat tersebut otomatis menjadi kontradiksi dengan apa yang disebutkan dalam Kisah Para Rasul 3 ini yaitu bahwa Allah mengutus Kristus (mesias) yang dengan jelas menunjukkan bahwa mereka adalah oknum yang berbeda.